Obituari Dra. Umiyah, M.Sc.agr

"Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Telah meninggal dunia Ibu guru kita Bu Umiyah (Dosen Biologi FMPA Univ. Jember) tadi pagi 7 di Bantul dan telah dimakamkan disana. Semoga arwah beliau diterima di si Allah, diampuni dosa-dosanya nya dan diterima amal baiknya. Keluarga beliau mohon agar beliau dimaafkan kesalahan beliau."


Kira-kira demikian isi broadcast yang saya terima siang ini Waktu Korea Selatan. deg.. deg.. deg.. saya bagaikan bisa mendengarkan sendiri dengan jelas degub jantung saya memantul layar monitor buram didepan saya. Tak percaya, kemudian saya konfirmasi ke teman-teman lain tak lama kemudian beberapa pesan pun masuk dengan nada yang sama. Menahan sesak di dada saya pun meneruskan informasi tersebut ke beberapa orang dan grup alumni.


Beliau adalah taxonomist tumbuhan, inisiator Herbarium Jemberiense di Univ. Jember. Salah satu guru terbaik yang kami miliki. Dibalik sifat kerasnya untuk menekankan kejujuran dalam setiap aktivitas, beliau adalah seorang keibuan sejati, teladan kami, yang selalu memberikan motivasi kami untuk bangkit tidak hanya berkutat di kampus dan mengejar apa yang kami bisa kejar, "karena masing-masing dari kalian punya potensi!, galilah temukan dan capai!" ujar beliau seringkali.


Salah satu momen yang tak akan saya lupakan adalah di usia beliau yang diatas 51 beliau beliau mendaki ke Danau taman hidup Gunung Argopuro bersama saya dan 2 mahasiswa lain hanya untuk survey lokasi sebelum membawa mahasiswa lain. Pendakian memakan waktu 7 jam penuh canda dan penuh pelajaran, tidak hanya tentang tumbuhan tapi tentang kehidupan. Tak lupa gurauan beliau "aku wes tuwo.. ojok cepet-cepet" - Saya sudah tua jangan cepat-cepat yang menjadi andalannya saat kami jalan terlalu cepat. Pendakian panjang itu terbayar dengan keindahan dan mistisnya danau di kaki argopuro itu. Sayang tak lama kami disana, pukul 3 sore hari kami harus turun dengan cepat karena kami tidak membawa perlengkapan cukup untuk malam hari, perlahan namun pasti hanya berbekal cahaya purnama dan cahaya dari hp malam itu Alhamdulillah kami bisa kembali ke Bremi selepas isya dengan selamat. Karena esok pagi ada kelas beliau pukul 7, akhirnya diputuskan langsung pulang saat itu juga ditengah letih yang berat. Beliau adalah dosen pertama yang saya bonceng naik motor pulang pergi Jember-Bremi (Probolonggo). Berangkat subuh dari Jember dan dari bremi kami kembali ke Jember menempuh perjalanan dari jam 9 malam hingga 12 lebih dini hari karena kami harus berhenti beberapa kali untuk melepas lelah dan kantuk. Salutnya, beliau tetap memberikan kelas seperti biasa keesokan harinya, sementara kami mahasiswa yang mendampingi beliau terkapar di kamar masing-masing.

Terahir bertemu langsung dengan beliau adalah saat beliau berkenan dan berkesempatan untuk hadir dalam acara pernikahan kami bersama guru-guru kami yang lain.. Sungguh kami berterima kasih dan sangat berbahagia atas kehadirannya..

Dan hari ini.. beliau pergi mendahului kami semua...

Kami kehilangan... kami kehilangan kehilangan salah satu taxonomist tumbuhan yang berdedikasi, kami kehilangan guru dan dosen yang mewariskan ilmu dengan penuh kesabaran, kami kehilangan sosok yang menanamkan integritas dan kejujuran dalam proses belajarnya, kami kehilangan sosok teladan dengan senyum khas nya.. terlebih lagi kami kehilangan sosok ibu bagi anak-anaknya yang seringkali butuh kesabaran ekstra untuk membangunkan potensinya..

selamat jalan ibu..
Doa kami untukmu..
Semoga Allah memberikan tempat terbaik disana..
allohumma firlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha..

Jinju, 9 Agustus 2014.
Minggu yang penuh berita duka.

Comments

  1. Mohon maaf sebelumnya, saya berterima kasih kepada mas Ryza yang telah meluangkan waktu menulis obituari ibu saya. Ibu sering bicara tentang mahasiswanya, juga yang berada di luar negeri, kalau tidak salah yang di Korea ada mas Ubai juga. Kalau mas Ubai belum tahu tentang berita ini, saya minta tolong disampaikan ke beliau. Saya juga meminta maaf apabila dalam keseharian Ibu punya salah tutur kata, sikap, atau perbuatan, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih mas Ryza, mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan. (Limpat Panggraito, mewakili keluarga, Putra kedua Ibu Umi)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Belajar Menyetir Mobil dalam Seminggu

Panduan Ukuran Baju di Korea dan Konversi ke Ukuran Internasional (Baju, Sepatu dan Bra)

Belajar Menyetir Mobil Hari Pertama